Untuk kali ini, izinkan aku melupakanmu. Aku merasa yang ada pada dirimu tak bisa ku harap lagi. Senyum manjamu, air matamu, kebaikanmu, tatapanmu dan kenangan-kenangan lalu yang semakin bertambah perih jika ku ingat lagi. Aku pun yakin kau ingin aku cepat-cepat berlari dan melupakanmu. Penuh sudah memori fikiranku oleh keluguanmu di awal-awal aku meluluhkan dinding hatimu. Aku tak pernah menghitung jelas tentang langkah perjuanganku dulu, sekuat hati bertahan melawan kebosanan, sekeras baja menghadapi perkataan orang tentang kita.
Tak pernah terpikirkan olehku, setelah kau
berjanji untuk sejalan dan berdiri tegak melawan hantaman hidup. Kau
meninggalkanku dengan seribu alasan yang tak bisa aku terima. Memang, hidup
terkadang tak bisa sperti apa yang kita inginkan dan harus memilih. Kau punya
hak untuk mendapat seseorang yang terbaik menurutmu. Terbaik dari yang aku tak
punya, terbaik untuk melengkapi semua kelemahanmu, dan mudah-mudahan terbaik
sepanjang hidupmu.
Maafkan aku jika membuatmu selalu tersakiti.
Katakan saja Ya, aku mengerti benar tentang mu. Yang aku tak mengerti, dimana
letak salahku pada waktu itu. Mengapa kau diam, mengapa kau abaikan aku,
seperti inikah caramu mencampakkanku?. Aku melawanmu dalam sisi yang berbeda
dan kau sendiri tak tahu bagaimana bersikap. Selebihnya aku selalu bertahan,
itu semua demi kita, perlu kau tahu cintaku lebih besar dari semua benci
yang kau rasakan.
Tenang sayang, aku
tetap seperti air bagimu atau bagi siapa
saja. Kurasa semua tentangmu telah berakhir sekarang. Jujur,baru semalam kau
berkata sayang paginya kau tinggalkanku dalam kesepian.
Sempat aku bertanya, kemana dulu ucapan-ucapan
mu tentang “besarnya sayangmu padaku,dan kau pun tak mau aku pergi darimu.” Aku
ingin mendengarkannya untuk yang terakhir kali. Lalu menutupnya dalam peti mati
yang tak akan pernah kubuka lagi.
Haruskah aku rasakan paranoid dalam cinta? Belajar dari banyak kisah
bahwa cinta hanya ada untuk menyakiti. Belajar untuk menyakiti dahulu agar aku
tak tersakiti?
Aku bersumpah, aku tak pernah
menginginkan itu. Cukuplah aku yang berlinang air mata, tetapi jangan engkau.
Kubiarkan engkau datang dan pergi sesukamu, namun jangan larang aku untuk terus
menunggumu. Karena aku adalah lelaki malam.
Tahukah kamu apa itu lelaki malam?
Sudahkah aku menceritakan kepadamu? Tunggu, nanti aku akan menceritakannya.
Tunggulah saat itu agar engkau mengerti.
Di sini, aku terus menunggumu…di
malam-malam yang amat pekat di saat orang-orang memanjakan lelahnya.
Menunggu sembari aku meringkuk dalam
sepi. Sambil mengucapkan doa agar engkau bahagia. Tak perlu engkau mengeja lagi
perasaan hatiku dan meminta maaf karena telah menyakitiku. Sebelum kau berkata
itu, aku telah memaafkanmu.
Kejarlah bahgiamu sayang. Aku akan
selalu mendukungmu, bahkan jika kelak engkau ingin meruntuhkan langit yang
menaungi kita, aku juga akan turut berperang bersamamu.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku.
Maafkan aku untuk semua salahku dan ijinkanlah aku belajar melupakanmu.
Andaikan aku boleh memilih, aku ingin
kita tetap bersama. Menggenggam erat dunia berdua, mengusap seluruh air mata yang
jatuh di bumi dan lautan dan tak kubiarkan siapapun menyakitimu termasuk juga aku. Tetapi
sudahlah, aku rasa engkau juga sudah tak mau. Ada banyak pria di duniamu kini. Pria
yang lebih pantas untukmu daripada aku.
Bahkan jika suatu hari engkau telah
berhasil memilih pria yang akan berdiri di sampingmu. Sekalipun pria itu bukan
aku, aku tetap akan selalu berpihak padamu selama cinta ini masih di dalam
hati.
Atello – Ciputat_2012







0 komentar:
Posting Komentar